all about my MUAs

November 26, 2009 § 9 Comments

Terima kasih sebesar-besarnya untuk dua MUA kami,

mba Sofia untuk akad


dan

mba Novi Arimuko untuk resepsi


Aku puasss banget dengan riasan keduanya. Ga nyesel sama sekali untuk pake 2 MUA yang beda. Keduanya bisa terjemahin yang aku mau dan hasilnya WOW! Me likey! 😉 Here we go for the amateur review

Review Sofia MUA

Mba Sofia & tim amat sangat on time, malahan aku dan keluarga yang telat. Walopun telat mulai ngeriasnya, tapi mba Sofia dan tim bisa selesai ngerias aku, mama, dan dua kakak on time. Jadi ga ada istilah telat mulai akad.Selain itu, karena dirias pagi-pagi, mba Vera beliin aku kopi supaya ga ngantuk. So thoughtfull of her..

Timnya mba Sofia terdiri dari 2 orang, mba Vera dan seorang ibu-ibu yang tugasnya rias jilbab untuk mama dan kakak-kakak. Aku kira kakak dan mama akan dirias sama mba Vera, ternyata mba Sofia sendiri lho yang rias mereka. Wuihh management waktunya hebat! Blom lagi ada ponakan perempuan aku umur 8 tahun yang ikut-ikut pengen dirias. Mba Sofia dengan baik hati bikin sanggul kecil dan ngerias ponakan aku free of charge (makasih bangettt mba Fia). Request untuk bikin sanggul di rambut pake rambut aku sendiri (tanpa sanggul tambahan) juga disanggupi mba Fia, dan walhasil tetep bagus.

Make up-nya juga aku suka banget, soft untuk acara pagi tapi tetep bikin tampil beda. Untuk foundation, mba Fia pake MAC dan Kryolan. Alat-alat make up lainnya seputar MUFE, MAC, Bobbi brown, Chanel, dan kawan-kawan (quality guaranteed). Selain itu pinjam asesoris juga gratis, aku pinjem dari mulai anting, hiasan rambut, sampe bros gede yang aku pake itu.

Intinya aku sekeluarga puas banget dengan pelayanan dan riasan mba Sofia & tim. Orangnya baik, halus banget kalo bicara dan sangat menenangkan hati waktu ngerias. Bahkan mba Fia masih nemenin aku di ruang tunggu sebelum ijab kabul. Selama itu mba Fia foto-foto, katanya untuk pastiin make up udah bagus atau belum karena lebih kelihatan di foto dibanding aslinya.

Review Novi Arimuko

On time sudah pasti, jangan ragu deh profesionalitas tim-nya Mba Novi. Kali ini lagi-lagi keluarga aku telat, tapi berhubung yang dirias tim mba Novi cuma aku dan kedua mama, jadi ga masalah. Kedua mama telat dateng karena satu dan lain hal, dan kedua asisten mba Novi dengan sigap ngebuat rias jilbab dan bim salabim kedua mama jadi tambah cantik! 🙂

Khusus untuk pengantin dipegang semua sama mba Novi. Dari mulai rias wajah, sanggul, sampai pake bulang dan songket. Sigap dan sangat perfeksionis, itu kesan yang aku tangkap. Jadilah riasannya haluss dan kata orang-orang siy manglingi..

Untuk urusan rias wajah, free test make up yang dikasih juga selain bisa kita pakai untuk foto pre-wed tapi juga berguna buat MUA-nya. Mba Novi jadi udah tau karakter wajah aku dan semua warna make up yang dibawa disesuikan dengan warna kulit aku dan warna baju. Mantabh lah ya.. Alat-alat yang dipake juga setali tiga uang denga Sofia, tapi lebih lengkap dengan variasi yang lebih banyak. Bikin ngiri deh peralatannya..(hehe..ya iyalah dia kan MUA).

Selain itu yang aku suka, untuk make up pengantin pria cukup dipakein MAC studio fix dan lip balm. Ga dishading atau lipstick warna-warni. Jadi kesannya natural gitu..

sekilas tentang baju adat tapsel

November 25, 2009 § 3 Comments

Di atas pelaminan….

Tamu 1: “Ini adat apa ya mba?” dengan wajah bingung

Anggi: “Adat Tapanuli Selatan pak..” diiringi senyum manis

Tamu 2: ” Masa’ sih.. kaya’nya adat Kalimantan deh, tuh liat ukiran di pelaminan” nunjuk-nunjuk ke atas dengan wajah yakin 100%

Tamu 1: ” Oh.. kalimantan ya mba?” loh kok ga percaya sih sama penganten?

Anggi: “Bukan pak..  Tapanuli Selatan..” sambil teriak lebih kenceng supaya mereka denger

Tamu 1 & 2: “Ohh… Batak…” ralat: mandailing bukan batak.


Kejadian di atas ga cuma sekali atau dua kali, selama di pelaminan banyak tamu yang bertanya-tanya tentang baju adat dan juga dekorasi yang kami pakai. Hmm….ternyata jarang ya yang pakai baju adat Mandailing ini di Jakarta, walaupun banyak keturunan mandailing yang tinggal di jakarta.

Awalnya saya dan fakar mau pakai baju nasional aja saat resepsi. Tapiii diprotes orang tua. Menurut mereka, kapan lagi bisa pakai baju adat selain acara pernikahan. Selain suatu hal yang unik, kita juga ikut melestarikan kebudayaan bangsa. Pilihan pertama adalah pakai baju adat Jawa karena bapak saya orang Jawa. Well, berhubung saya ga mau dikerik dan ga mau keliatan lebih nong..nong..jenong pas nikahan, adat Jawa pun dicoret. Jatuhlah pada pilihan kedua pakai baju adat Tapanuli Selatan, dan inilah hasilnya…

Baju pengantin laki-laki:

– Penutup kepala disebut Ampu, yang merupakan mahkota yang dipakai raja-raja Mandailing di masa lalu. Bahannya beludru hitam dengan ornamen keemasan. Hiasan di pinggir ampu yang bentuknya kaya’ knalpot itu mengarah ke atas dan bawah, memiliki makna: ke atas: selalu ingat pencipta, ke bawah: selalu rendah hati.

Baju godang yang berbentuk jas.

– Ikat pinggang warna keemasan dengan selipan 2 pisau kecil disebut bobat.

– Gelang polos di lengan atas warna keemasan

– Kain sesamping dari songket. Berhubung ga ada songket tapanuli, jadilah kita pakai songket Palembang.

Baju pengantin perempuan:

– Penutup kepala disebut Bulang, berwarna keemasan dengan beberapa tingkat. Di masa lalu, tingkatan bulang ini menandakan jumlah atau jenis hewan yang disembelih saat upacara adat. Ada tiga tingkatan bulang, tapi sekarang yang dipakai bulang tingkat tiga semua karena udah jarang upacara adat. Bulang yang asli terbuat dari emas asli, tapi bulang yang aku pakai siy cukup sepuhan emas aje..

– Penutup daerah dada adalah kalung warna hitam dengan ornamen keemasan plus 2 lembar selendang dari kaing songket.

– Gelang polos di lengan atas warna keemasan

– Ikat pinggang warna keemasan dengan selipan 2 pisau kecil juga (ga mau kalah sama yang laki-laki) 😉

– Baju yang dipakai harusnya baju kurung tapi aku pakai kebaya modern kali ini. Kain yang dipakai juga songket palembang pasangan sesamping abang.

Semua baju, songket, dan asesoris sewa dari Nauli dekorasi (kecuali untuk kebayanya ya…). Untuk baju abang, kita ga minta jait perdana karena udah ada warna marun yang pas banget sama dengan warna kain brukat aku.

The Reception story

November 25, 2009 § 10 Comments

Hari & Tanggal: Sabtu, 7 November 2009

Venue: Birawa Assembly Hall, Bidakara

We went straight to BumiKarsa Hotel after akad nikah and spent the night there. Therefore we had a lot of time on Saturday morning to oversaw the decoration progress of Birawa . No, we’re not some control freak, we just thought it would be more practical to stay at the hotel (dapet complimentary dari catering juga ;)).

So anyway the story goes, we requested for some minor changes to the decoration team in the morning. Somehow there was a little misunderstanding about the standing flowers position. It was nothing major, just small changes to the layout. Overall we were satisfied with the whole settings, layout, props, and flowers. It was just like what we wanted.


Sekitar jam 2 siang, saya udah mulai di make up sama mba Novi. This time I wasn’t late (iyalah wong tinggal turun dari kamar hotel ke ruang rias aja). Tim mba Novi juga sangat ontime, pas saya masuk ruang rias mereka udah ada dan siap. The whole make up process took about 3 hours! There was a minor incident where my contacts ripped so I had to take it off and change. Luckily spare contacts were in hand. Review MUA juga nanti ya…

Trus jam 5 sore sesi foto keluarga dimulai. Dari mulai foto studio sampe foto di pelaminan dengan keluarga. Foto dengan keluarga diatur supaya di awal agar tidak mengganggu jalan acara nanti. Karena undangannya banyak banget, kita ga mau antrian kehambat karena keluarga mau foto. Jadi semua keluarga (inti dan besar) foto di awal. Tapiii jadinya ada beberapa saudara yang ga ikut foto karena belum datang dari sore (maaphkeun….).

Jam 7 tepat kirab pengantin udah masuk ke ruang resepsi. Memang tamu belum terlalu banyak, tapi kalo disesuain dengan jumlah tamu trus baru masuk, bisa-bisa antrian salaman panjang banget. Nah pas kirab ini gw udah mulai keleyengan. Kepala mulai cenut-cenut sampe agak susah buat jalan. Harus pegangan kuat ke abang supaya ga jatoh, hehe… Pusingnya gara-gara bulang yang diiket kuat dan juga ada tusukan jagar-jagar bulang yang sempet kesenggol-senggol waktu sesi foto. Langsung minta panadol ke WO, dan mereka sigap bawain panadol plus makanan. Alhamdulillah setelah itu mendingan pusingnya..


Saat kirab pengantin masuk ke ruang resepsi, kita maunya ponakan-ponakan jalan di depan pengantin. Jadi keliatan lucu deh ada anak-anak kecil jalan pelan-pelan. Hebatnya mereka ini yang biasanya nakal dan gabisa diem, ternyata bisa juga jalan pelan ikutin alunan musik gondang.

Sekitar jam 7.15 setelah kata sambutan dan doa, tamu mulai salaman. Salaman awal ini diiringi dengan shalawatan ibu-ibu Khairunnisa selama sekitar setengah jam (request from my mom, FYI). Setelah itu baru mulai musik jazz dari entertainment expert. To tell you the truth, we have no idea whether Adit sang the songs from our song list or not. There wasn’t any chance to listen; we were busy smiling, saying thank yous, and keeping our head from hurting. Ternyata ga cuma gw yang ngerasa sakit pake bulang, fakar juga ngaku kalo ampu yang dipake agak sakit.


Anyway, overall we enjoy our wedding party and we are so glad and happy to see our family and friends there. Some fellow bloggers also came! I recognize Irax cause we’ve met before and there was also Fanny whom I didn’t realize until she stepped down the stage. Thank you girls for coming.. 🙂 Lot’s of our friends came, even some of them came all the way from Duri just to attend (Makasih banget ya guys..).


Friends were asking if I would be throwing a bouquet (they were anticipating for it), and No there wasn’t any bouquet to throw or such. Wanna know why? Just look at my our head dress!

Kalo pake acara lempar-lempar bunga segala bisa nyangkut kali, hehehehe…  Ga pake acara lempar bunga aja, bulang gw udah berapa kali nyangkut, entah ke tamu atau ke ampunya abang, hohoho… Ohiya, just a little advice, kalo ke kawinan yang mempelainya pake sunting, bulang, atau apapun di kepala yang tampak berat , please..oh dear God please…don’t try to give her cipika-cipiki. Bukannya ga menghormati yaa, tapi sakiit bow kalo head dress sampe nyangkut (yang kemungkinan besar pasti ketarik ya setelah cipika-cipiki).

Afterwards, we didn’t have time and energy to mingle with the guests. Even though after we stepped down the stage, lot’s of our friends were still around. Fakar had the chance to mingle, but I was too busy trying to take off the bulang which was killing my head. Selain si bolang bocah petualang yang bikin sakit kepala, Alhamdulillah semua berjalan lancar. Friends told me they had a great time, enjoyed the food and the whole ambience. They especially liked DTC’s coffee corner (hehe..I knew it would be a differentiation). My parents got a lot of compliments regarding the F&B, people said food tastes great and there were more than enough.

Banyak terima kasih ke semua pihak yang udah ngebantu jalan dan lancarnya pernikahan kami. Semua vendor, saudara, WO, buku tamu girls, among tamu, dan semua pihak yang ga bisa kami sebut satu per satu. Thank you.. Danke schön!.. Merci beaucoup.. Matur nuwun…

As for both of us, we are truly GLAD and RELIEVED those months of preparations leads to an eternity of TOGETHERNESS.

So, there it is…

OUR JOURNEY has just started babe!

😉

Good luck to you all brides and grooms-to-be on your wedding preparations!

Enjoy every moment, cherish every second, don’t fret the small stuff, after all in the end of the day you’re not gonna care about all those details, all you care about is that you’re lucky enough to be married to the person you love. 🙂

Have FUN, we certainly did…

our akad nikah

November 24, 2009 § 10 Comments

Hari & Tanggal: Jum’at, 6 November 2009

Venue: Masjid At-Tin, Jakarta Timur

Akad nikah dimulai jam 8 pagi. Why so early? karena ini hari Jum’at dan mesjidnya mau dipakai untuk Jum’atan jadi harus udah beres akadnya jam 10. Jadilah semua persiapan harus dari pagi-pagi buta.

Jum’at jam 3.30 am, rumah gw udah mulai rame. Semua sibuk siap-siap berangkat, bawa baju-baju dan segala peralatan lain karena kita mau dandan di mesjid At-Tin. Rencana awal berangkat sebelum subuh (jam 4 teng!), tapi manusia bisa berencana dan cuma Tuhan yang menentukan. Gara-gara miskom dan ribet bangunin para bayi di pagi buta, jadilah keluarga besar gw mengira kalo rencana berangkat jam 5.

Parahnya lagi jam 4.30, udah ditelvon mba Sofia, beliau dan tim udah sampe mesjid At-Tin. Deng…!!! Panik beribu panik, merasa ga enak sama mba Sofia yang udah on time, malahan pengantinnya yang nelat (maaf ya mba Sofia…). Langsung minta papa ngebut ke  At-Tin. Untungnya ada tol JOR, jadi Bintaro ke Taman Mini cukup 25 menit sajah. Fiuhh…

Sampai di At-Tin langsung cari Mba Sofia dan cari satpam untuk minta dibukain ruang rias. Begitu masuk ruang rias, beuh…PANASnya! Minta AC dinyalain juga percuma karena petugasnya belum dateng. Selain itu, kita cuma dikasi satu ruang rias yang kecil mungil, walhasil semua tumplek jadi satu kaya’ sarden kepanasan. Sekitar 40 menit kemudian baru deh AC mulai dingin, jadi ga khawatir make up meleleh.

Sekitar jam stengah 7 ada sms dari Fakar, keluarganya udah mau jalan ke At-Tin. Haiyah..tambah panik dong, wong riasan gw aja blom ada stengah jalan. Lucky for me, mba Sofia and her team were really nice. They assured me us that there’s enough time to get the bride, bride’s mother and sisters ready in time. Review tentang Sofia MUA coming up.. ga seru kalo disatuin. 😉

Jam stengah 8, semua keluarga udah siap dan langsung ke dalam mesjid. Tinggal gw sendirian yang masih dirias dan ditemenin salah seorang tante. Satu jam kemudian baru beres riasan dan langsung naik ke ruang tunggu (gw ga keluar sebelum ijab kabul). Selama di ruang tunggu, ada speaker yang tersambung dengan mic di luar sehingga gw bisa denger nasehat pernikahan dan juga ijab kabulnya.

Ga berapa lama di ruang tunggu, langsung ijab kabul ternyata.

"saya terima nikah dan kawinnya Eleanora....."

Alhamdulillah ijab kabul lancar dan ga diulang. Suara fakar kedengeran tegas tapi ga buru-buru (proud of you hon..wish I could’ve seen your expression. ;)). Dari malam sebelumnya abang udah print contekan dan latian katanya.

Begitu selesai doa setelah ijab kabul, gw langsung berdiri siap-siap mau keluar tapi dicegat teh Dea dari tim WO. Mereka heran gw mau kemana. Usut punya usut, ternyata T’Dea ga denger ijabnya, hehehe..hampir aja pengantinnya telat keluar.

Setelah duduk sebelah abang, ya standar lah ya.. Tanda tangan dokumen-dokumen dan dikasi buku nikah. Begitu dikasi buku nikah, pak penghulu inisiatif minta abang untuk baca sighat taklik. Tapi by my request, pembacaan sighat taklik ga perlu dilakukan. Dan begitulah lanjut lagi acara dengan foto-foto wajib kawinan bak artis.

Yang disambung dengan penyerahan Catur Weda dari papa untuk fakar trus lanjut ke acara sungkem ke kedua orang tua. Lalu lanjuuut lagi dengan foto-foto dong.. 😉


Cerita Siraman part deux

November 23, 2009 § Leave a comment

Ternyata eh ternyata Papa masih kuat lho gendong gw! saat diminta untuk gendong oleh MC, papa dengan santai gendong dan jalan beberapa langkah (mungkin kalo ga disuruh berhenti oleh MC, bakal terus digendong si gw, hehehe..)

Kehebohan pecah setelah acara siraman, yaitu saat saweran. Sebetulnya saweran ini harusnya satu prosesi dengan tumplak punjen yang harusnya lagi setelah akad nikah. Well, like I’ve said before, ini adat Jawa koboi. hehehe… Disingkat ga ada tumplak punjen, adanya saweran aja untuk menghibur tamu dan sebagai rasa syukur kedua orang tua gw udah beres mantu.

Begitu gw naik ke kamar untuk ganti baju dan rias, mama dan papa lanjut dengan acara Dodol Dawet. Dari cerita sodara-sodara gw, ini juga HEBOH berat. Ibu-ibu berebut beli dawet pake kreweng yang sudah dibagi sebelumnya. Dawet jualan mama ternyata laris manis, sampe si calon mantenpun ga kebagian.

Lucunya sewaktu gw selesai dirias dan sanggul, begitu turun ternyata tamu-tamu udah pada pulang. Tinggal beberapa keluarga dekat yang masih ngobrol dan makan siang. Padahal masih ada acara Dulangan Pungkasan, tapi MC lupa untuk announce, jadilah tamu-tamu pada pulang. Yang ada gw udah cantik tapi ga bisa ngeceng deh, hohoho.. 😉 Dulangan Pungkasan ini bermakna bahwa orang tua sudah ikhlas melepas anaknya untuk berumah tangga secara mandiri dengan pilihannya.

Kebaya pink yang gw pake ini dadakan baru dipilih malam sebelumnya karena kebaya yang rencananya untuk siraman jahitannya gagal (kurang enak jatoh di badannya). Untung ada kebaya pink yang belum pernah dipake ini, jadi slamet deh.. Btw, kebaya pink ini juga jahit di Tante Titiek.

Cerita Siraman

November 23, 2009 § Leave a comment

Setelah pengajian kurleb 1 jam, acara lanjut dengan prosesi siraman pake adat Jawa. Sebetulnya ga Jawa-jawa banget, agak campur sari begitu. Soalnya walopun keluarga papa tulen dari Jawa tapi mereka ga terlalu pakem dengan adat. Yaa..yang penting ada siraman aja, engga ada pasang bleketepe dan lain-lain. Mungkin untuk sebagian orang ini kurang nJawani, tapi yoweslah ya itu siy pendapat masing-masing  aja..

Sebelum siraman ada acara sungkeman ke kedua orang tua dan juga ke eyang putri. Pas sungkem ini gw KAKU abist! berasa banget kagok dan ga bisa sungkem dengan bener. Padahal udah dibantu dan dipandu pemangku adat, tapi teteup anehhh.. apalagi pas liat di foto *LOL*, aneh banget posisi dan cara gw kasih salam dan sungkem.


Selama prosesi sungkeman, dipandu sama pemangku adat. Nah si bapak berblangkon dan jarik ini nyerocos dengan fasih pake Jawa kromo inggil. Walahhh yang ada gw pengen ketawa-ketawa karena ga ngerti sepatah katapun. Ternyata ibuku yang bukan orang jawa juga sama ga ngerti dan senyum-senyum aja. Ga khusyu’ lah ya hai sungkemannya.

Prosesi Siramannya sendiri berlangsung lancar alhamdulillah.. Pertama tujuh macam air dicampur oleh kedua orang tua, tuang ke air siraman, trus mulai deh.. BYUR!!!


Brrr… walopun udah pake air hangat, tetep gw kedinginan, wong cuma pake kemben, 😉

Setelah disiram para sesepuh, bude, dan tante, diakhiri dengan siraman ketua pengajian Khairunisa. Lanjut dengan Pangkas rambut Rikmo.

Potong rambut ini maksudnya buang sial membuang segala hal buruk agar pernikahan lancar. Rambut sebelah kanan dipotong papa dan kiri dipotong mama, lalu potongan rambut dimasukkan ke dalam air mawar dan kemudian ditanam dalam tanah. Baru kemudian dilanjutkan dengan wudhu dan pecah kendi. Katanya pecah kendi ini ada maknanya juga, tapi eyke ga tau bo..

sekarang segini dulu ya, more stories to come…..

Pengajian pra pernikahan

November 23, 2009 § 2 Comments

Hari & Tanggal: Kamis, 5 November 2009

Venue: Rumah si sayah

Acaranya dimulai pagi jam 9, dengan rumah yang udah didekor dan meja katering tertata rapi, pagi-paginya saya dan keluarga masih bisa santai-santai. Tim WO udah mulai berdatangan jam 7 bareng sama katering yang bawa makanan.


Nah, berhubung tamu-tamu yang diundang kebanyakan saudara, jadilah mereka inisiatif untuk dateng lebih awal. Dari mulai jam 8 tamu-tamu udah banyak, padahal gw masih berkaos dan celana pendek *LOL*. Langsung terbirit-birit masuk kamar, ganti baju pengajian trus dandan. Karena periasnya baru dandanin nanti setelah siraman, pagi itu saya dandan ndiri. Dandanan soft aja buat pengajian siy..

Tepat jam 9 acara dimulai dengan lantunan shalawat dari ibu-ibu pengajian Khariunnisa (Pejaten). Ibu-ibu ini udah PRO deh untuk acara-acara pernikahan ini. Suaranya bagus dan juga mereka sangat on time. Sekitar 15 menit saya nunggu di kamar, jadi ceritanya nanti CPW keluar dari kamar menuju “pelaminan” sederhana hasil dekor tim WO. Ehiya lupa cerita, WO saya jago dekor jadinya ga sewa dekor lagi untuk rumah. Cukup sewa tenda aja dari rekanan WO, trus soal bunga dan dekor tempat siraman + kamar pengantin udah urusan WO semua semua.


Setelah itu ngaji beberapa ayat dari: Q.S. An-Nisa, Q.S. Lukman, Q.S. Ar-Rahman. Ada beberapa ayat dimana saya yang baca sari tilawahnya, awalnya pengen baca ayatnya, tapi berhubung ku bukan Qari yah cukup sari tilawah sajah. Pengajian jalan sekitar 1 jam dan tiba-tiba “….!” mati lampu!

Jadilah ada sebagian tamu yang gelap-gelapan ga ada lampu. Untungnya atas saran WO kita udah sewa genset untuk AC, ga kegerahan walopun gelap-gelapan. 🙂 Alhamdulillah insiden mati lampu cuma sekitar 1/2 jam, langsung nyala lagi. Sepertinya tetangga sebelah rumah yang notabene orang P*N langsung telvon kantornya (makasih Oom…). Satu lagi glitch pas pengajian, ada insiden kebakaran kibor pemusiknya. Masih blom jelas kenapa bisa kebakar, kemungkinan karena pas mati lampu, si pemain kibor inisiatif nyambungin alat musiknya ke genset tanpa konsul ke operator genset. Kasian si bapak…

Permohonan maaf dan permintaan ijin saya ke kedua orang tua dibaca saat pengajian ini. and you know what? I broke down and could hardly read the text in front of me. It was so hard not to cry, the feeling of gratefullness, regrets (for being such a brat), and happiness to have such wonderfull parents mixed down to my tears. Afterwards, I felt relieved and truly happy being my parents daughter. 🙂


My dad gave such a great advice in return, on how to be a good wife and how to build a household together with my husband. It was such an amazing speech for me, and I would dearly keep his words in my heart and mind for the rest of my life. Love u Papa!

Setelah itu salam-salaman dengan semua hampir semua tamu, dan si akuh buru-buru digiring ke atas buat persiapan siraman.



to be continued to Siraman…

foto-foto lebih banyak menyusul yaa….

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2009 at Our Life Journey Together.